Ada satu hal yang gue sadar belakangan ini, dan jujur agak bikin gue malu. Selama dua tahun pertama jadi freelancer, gue merasa sudah jadi orang tua yang baik. Kenapa? Karena gue bayar SPP anak tepat waktu, beliin susu, dan kadang beliin mainan kalau lagi dapat proyek gede. Selesai. Menurut gue waktu itu, itu udah cukup.
Ternyata enggak. Dan ini yang kayaknya jarang banget dibahas di obrolan soal freelancer dan keluarga. Kita terlalu sering ngomongin soal cash flow, soal waktu kerja yang fleksibel, soal gimana bagi waktu antara klien dan anak. Padahal ada masalah yang lebih dalam dan lebih sunyi: kita perlahan berubah jadi mesin ATM yang tinggal di rumah.
Jebakan "Aku Kan Udah Cari Duit Buat Mereka"
Kalimat itu, gue yakin, pernah keluar dari mulut banyak freelancer. Gue sendiri pernah ngomong gitu ke istri, dengan nada setengah defensif, waktu dia komplain gue kelamaan di depan laptop. Dan waktu itu gue merasa kalimat itu sah-sah aja. Logikanya kan jelas: gue kerja keras ya buat keluarga.
Baca juga: Ibu Rumah Tangga: Ngirit Budget Anak Tanpa Korbankan Kualitas
Masalahnya, anak enggak bisa mengurai logika kayak gitu. Buat anak usia lima tahun, "Ayah cari duit buat kamu" itu abstrak. Yang dia lihat cuma ayah yang matanya nempel di layar, yang jawab "hmm" tanpa lihat ke arahnya, yang bilang "nanti ya, Ayah lagi kerja" — dan "nanti" itu enggak pernah datang.
Yang paling sering hilang dari freelancer bukan waktu, tapi kehadiran. Fisiknya di rumah, tapi pikirannya di invoice yang belum dibayar.
Ini yang bikin beda sama orang kantoran. Kalau orang kantoran pulang, mereka pulang. Laptop kantor ketinggalan di meja kerja. Freelancer? Rumah adalah kantornya. Batasnya kabur, dan tanpa sadar kita bawa pulang semua beban kerja ke ruang makan, ke kamar anak, ke momen-momen yang seharusnya jadi milik mereka.
Anak Belajar dari Apa yang Dia Lihat, Bukan dari Rekening
Gue pernah baca satu riset yang bilang anak-anak lebih banyak belajar dari perilaku orang tua ketimbang dari ucapan. Dan ini nyambung banget sama poin di atas. Kalau tiap hari anak lihat orang tuanya kerja terus dan menganggap kerja adalah segalanya, dia bakal menyerap nilai itu. Entah itu bagus atau enggak, tergantung gimana kita membingkainya.
Yang lebih menyakitkan: anak juga belajar bahwa perhatian itu harus diperebutkan. Di rumah freelancer, laptop dan HP itu pesaing berat. Anak-anak akhirnya paham bahwa untuk dapat perhatian orang tuanya, dia harus menunggu sampai notifikasi berhenti bunyi. Dan notifikasi itu, seperti kita tahu, enggak pernah benar-benar berhenti.
Gue ingat suatu sore anak gue nanya, "Ayah, kalau HP-nya tidur, Ayah main sama aku ya?" Sakit, kan? Anak kecil itu sampai mengasosiasikan kehadiran gue dengan matinya HP gue. Sejak itu gue sadar ada yang salah.
Hal yang Jarang Dibahas: Rasa Bersalah yang Salah Arah
Freelancer itu punya stok rasa bersalah yang banyak, dan sering salah sasaran. Kita merasa bersalah kalau enggak kerja — takut proyek lepas, takut klien kabur, takut pemasukan bulan ini jeblok. Rasa bersalah ini yang bikin kita susah banget benar-benar berhenti walaupun udah janji mau main sama anak.
Padahal rasa bersalah yang seharusnya kita pelihara justru yang sebaliknya. Bukan rasa bersalah karena enggak kerja, tapi rasa bersalah karena udah terlalu sering mengorbankan momen kecil yang enggak bisa diulang. Ulang tahun anak cuma sekali setahun. Anak minta digendong sambil baca buku cuma di rentang usia tertentu. Setelah lewat, ya lewat.
Beberapa hal kecil yang gue coba dan lumayan ngefek:
- Bikin "zona mati" HP. Gue taruh HP di ruangan lain selama 30 menit waktu anak pulang sekolah. Enggak lama, tapi cukup buat dia merasa dilihat.
- Pisahkan ruang kerja dan ruang keluarga. Kalau enggak punya ruangan khusus, minimal satu sudut meja yang jelas: kalau gue di situ, gue kerja; kalau gue di sofa, gue bukan pekerja.
- Bicara soal kerja ke anak dengan bahasa yang dia paham. Bukan "Ayah lagi meeting", tapi "Ayah lagi ngobrol sama orang buat cari uang jajan kamu, 20 menit lagi selesai ya". Anak jadi punya gambaran, bukan cuma ditolak.
- Minta anak "ikut kerja" sebentar. Kadang gue biarin dia duduk di sebelah, coret-coret buku sambil gue ngetik. Dia merasa terlibat, gue tetap produktif.
Enggak ada yang revolusioner dari daftar itu. Tapi justru itu poinnya. Perbaikan hubungan keluarga jarang datang dari gestur besar. Datangnya dari hal-hal kecil yang konsisten, yang kadang kita anggap remeh karena terlalu sibuk ngurus hal besar.
Freelancer Bukan Berarti Orang Tua yang Lebih Baik
Ada satu mitos yang bikin gue agak geregetan: anggapan bahwa freelancer otomatis jadi orang tua yang lebih hadir karena waktunya fleksibel. Enggak selalu. Fleksibilitas itu pedang bermata dua. Bisa dipakai buat hadir lebih banyak, bisa juga dipakai buat kerja lebih banyak tanpa batas.
Yang menentukan bukan status pekerjaan kita, tapi keputusan sadar yang kita ambil tiap hari. Mau jadi orang tua yang fisiknya di rumah tapi hatinya di Google Drive, atau orang tua yang benar-benar hadir walau waktunya terbatas? Itu pilihan, bukan bawaan dari pekerjaan.
Gue sendiri masih sering gagal. Masih ada hari-hari di mana gue lupa dan balik jadi mesin ATM yang tinggal di rumah. Tapi setidaknya sekarang gue sadar. Dan kesadaran itu, menurut gue, adalah langkah pertama yang paling sering dilewatkan orang. Kita sibuk ngurusin cara mengasuh anak, sampai lupa bertanya: sebenernya kita ini sedang jadi orang tua, atau cuma jadi penyandang dana yang kebetulan tinggal serumah?
Kalau kamu freelancer dan punya anak, coba deh renungin sebentar. Bukan buat merasa bersalah, tapi buat sadar. Karena anak enggak butuh orang tua yang sempurna. Dia cuma butuh orang tua yang benar-benar ada.
===